Monday, 27 August 2007

News: THE NEW NISSAN X-TRAIL (Bn*X)

Back in business!















...















Jika dilihat dari perkembangan model dengan pesaingnya, Nissan X-Trail memang bisa dibilang terlambat. Nissan sepertinya lebih memilih untuk bersikap pasif dalam menghadapi Honda CR-V yang sudah lebih dulu berganti “baju”. Namun, bukan Nissan namanya jika membiarkan jalan menuju posisi “The no. 1 SUV” dengan mudah diambil oleh pesaingnya tersebut. Walaupun belum akan dirilis dalam waktu dekat, setidaknya para penggemar Nissan X-Trail saat ini dapat bernafas lebih lega karena Nissan akan meluncurkan New X-Trail pada tahun 2008. New X-Trail tentu saja tidak akan dilepas dengan spec up yang biasa-biasa saja. Beberapa perubahan yang signifikan diberikan oleh Nissan untuk SUV-nya ini.

Di sektor mesin, Nissan akan membekali New X-Trail dengan empat pilihan mesin. Dua mesin diesel hasil pengembangan Nissan bersama Renault, satu mesin bensin yang juga pengembangan bersama Nissan dengan Renault, dan terakhir adalah mesin bensin dari model terdahulu yang sudah disempurnakan. Mesin-mesin ini memadukan tenaga besar dengan efisiensi dan daya tahan. Pada sektor diesel, New X-Trail memakai mesin diesel M1D empat silinder berkapasitas 2.0 liter. Mesin ini dibekali dengan turbocharger, menghasilkan tenaga puncak 110kW (150 HP) dan 127kW (173 HP) pada versi yang dilengkapi dengan intercooler. Torsi maksimum yang dihasilkan juga tergolong dahsyat untuk mesin diesel berukuran “mini”, yaitu 320 Nm dan 360 Nm yang 90% sudah diraih saat putaran mesin baru mencapai 1.750 RPM. Untuk menemani mesin diesel ini disediakan pilihan 6-speed automatic transmission dan 6-speed manual transmission. Untuk sektor bensinnya, New X-Trail memakai mesin empat silinder berkapasitas 2.0 liter yang blok dan cylinder head-nya terbuat dari bahan alloy. Mesin ini memproduksi tenaga sebesar 103kW (140 HP) dan secara mengejutkan memuntahkan torsi sebesar 193 Nm yang 90%-nya sudah tersedia sejak 2.400 RPM, cukup rendah untuk ukuran mesin bensin. Mesin bensin lainnya tak lain adalah mesin empat silinder 2.5 liter yang sudah dipakai di model sebelumnya, namun tentu saja telah disempurnakan. Mesin ini menghasilkan 124kW (169 HP) dan torsi puncak sebesar 233 Nm. Untuk kedua jenis mesin bensin ini, pilihan girboks yang tersedia adalah 6-speed manual transmission dan CVT transmission.
















Untuk sektor penggerak, New X-Trail sudah dilengkapi dengan teknologi terbaru dari Nissan berjuluk “All Mode 4x4-I”. Sistem ini diatur melalui sebuah knob berputar yang terletak di dashboard dengan pilihan gerak dua roda, Auto, DDS (Downhill Drive Support), dan USS (Uphill Start Support). Di mode Auto, komputer akan terus memantau bukaan gas, kecepatan kendaraan dan torsi untuk mengantisipasi gejala selip. DDS adalah sistem yang membantu pengemudi untuk mengendalikan kendaraan di turunan curam. Bekerja dengan terlebih dahulu mengaktifkan sebuah switch di konsul tengah dan sistem All Mode dalam posisi LOCK. Sistem ini memanfaatkan anti-lock brake untuk menahan laju kendaraan sebatas 7 km/jam agar pengemudi dapat memfokuskan diri pada pengendalian kendaraan tanpa harus memainkan rem. Sedangkan USS adalah sistem yang membantu pengemudi dalam menghadapi tanjakan. Sistem ini bekerja otomatis saat komputer mendeteksi kemiringan jalan yang melebihi sepuluh derajat. Sistem ini akan mengerem kendaraan sampai saat pengemudi menjalankan mobilnya kembali. Kedua sistem ini (DDS dan USS) juga dapat bekerja saat mobil berjalan mundur.
















New X-Trail juga hadir lebih besar. Jarak wheelbase bertambah 5 mm menjadi 2.630 mm sedangkan panjang keseluruhannya bertambah 175 mm menjadi 4.630 mm. Penambahan dimensi ini sebagian besar dimanfaatkan untuk area bagasi yang sekarang dapat menampung barang bawaan sebanyak 603 liter, bertambah 193 liter dari kapasitas sebelumnya yang hanya 410 liter. Area ini dialasi oleh alas plastik keras yang anti-selip. Bahkan sebenarnya lantai mobil ini seluruhnya dialasi oleh bahan serupa. Jadi tidak ada lagi karpet konvensional yang digunakan. New X-Trail memiliki sudut datang sebesar 28 derajat dan sudut pergi sebesar 23 derajat, ditambah groud clearance sebesar 200 mm membuat mobil ini mampu menjelajahi trek off-road ringan.

Untuk kelengkapan fiturnya sendiri, New X-Trail memiliki air conditioner, power window di depan dan belakang, dan Bluetooth mobile phone connectivity untuk semua tipe. Sedangkan untuk fitur keselamatan standar terdapat side airbags, curtain airbags, ABS, dan EBD. Untuk pilihan opsional, terdapat lampu utama Xenon, roof rail yang dilengkapi dengan driving lamps, dan navigasi satelit yang terintegrasi dengan layar berwarna yang juga dihubungkan dengan kamera parkir.

Artikel ini dipublikasikan tanggal 27 Agustus 2007 (Bn*X)





Baca Selengkapnya!

Wednesday, 15 August 2007

Liputan Acara: ULTAH KETIGA TAFT DIESEL INDONESIA (Bn*X)

Kebersamaan yang semakin dalam..

Tidak mudah bagi sebuah komunitas, apalagi yang berangkat dari format milis, untuk mengikat kebersamaan yang akrab, harmonis, dan tanpa batas-batas kesungkanan. Setidaknya itulah kemajuan pesat yang ditunjukkan oleh para penggemar Daihatsu Taft yang tergabung dalam komunitas Taft Diesel Indonesia (TDI).
...
Di ulang tahunnya yang ketiga ini, TDI mengambil lokasi di Lido , Sukabumi, tanggal 7-8 Juli untuk merayakan kebersamaan mereka. Bertemu di meeting point setopan Sentul, rombongan ini lalu beranjak menuju lokasi acara. Kemacetan lalu lintas di pintu keluar tol langsung menghadang, karena kebetulan minggu-minggu itu masih merupakan pekan liburan kenaikan kelas bagi anak-anak sekolah. Tidak heran bila ada saja muka-muka lemas yang terlihat begitu rombongan tiba di lokasi. “Lemes banget gw, heat stroke!”, adalah salah satu ungkapan yang keluar dari salah satu peserta. Belum cukup menghela nafas untuk menghilangkan rasa lelah, peserta yang ingin mencicipi trek CR lagsung diminta untuk line-up. Hal ini disebabkan karena waktu yang sudah memasuki sore hari. Maklum, rencana untuk berangkat dari meeting point pukul 12.00 molor menjadi pukul 14.00 dan belum lagi kemacetan yang menghadang di sepanjang perjalanan.

Trek yang disediakan oleh panitia merupakan jalan tanah yang memotong tengah-tengah perkebunan rakyat.
















Trek yang sebenarnya tidak berat menjadi menantang karena tanahnya masih basah oleh hujan di siang harinya, pun masih ditambah oleh cerukan-cerukan yang bila salah perhitungan dapat menjadi jebakan yang cukup “menyesatkan”. Terbukti, rombongan tertahan sekitar dua jam karena harus me-recovery salah satu mobil yang stuck. “Berat, maju ga bisa, ditarik mundur juga susah. Gardannya depan-belakang nyangkut”.
















Namun kesulitan yang menghadang tidak diganjar dengan keluh kesah, justru sebaliknya, ada saja celetukan-celetukan usil yang terlontar seperti, “Udah.. Mending bakar jagung aja dulu yuk, laper nih belom makan, mumpung di tengah kebon jagung..” Akhirnya dengan kerjasama, saling bantu, rasa kebersamaan yang kental, serta derai tawa hal ini akhirnya dapat teratasi. Itulah khas komunitas off-roader, jangankan saat senang, di saat sulit pun ada saja yang bisa ditertawakan.
















Kembali ke lokasi, para peserta dijamu oleh penayangan slide-slide perjalanan TDI selama tiga tahun. Setelahnya, nasi tumpeng telah menunggu untuk disantap. Belum cukup, para peserta masih pula dihibur oleh live music yang dipersembahkan oleh band keluarga salah satu anggota milis. Keesokan harinya, setelah sarapan, aneka fun games yang bertujuan untuk menambah suasana guyub telah menunggu.
















Tidak hanya untuk para orang tua, untuk anak-anak pun disediakan “kursus kilat” membuat layang-layang, “Sejalan dengan tema acara: “BEYOND FRIENDSHIP”, yang juga sebagai tagline komunitas ini”, jelas Taufik Eko Yudanto, founder milis Taft Diesel Indonesia.
















Sudah? Tentu belum.. Sebagai komunitas otomotif, tentu tidak afdhal kalau tidak disediakan permainan dengan menggunakan kendaraan. Permainan ini akhirnya dimenangkan oleh Andhy Riza dan keluarga, setelah peserta dengan waktu tercepat (Mosa Sukandar) terpaksa didiskualifikasi karena “kenakalan” co-driver.































Dan sebagai penutup kegiatan, digelar sesi foto bersama.

Maju terus Taft Diesel Indonesia! Tetap guyub, dan hangat!

Terima kasih: Taft Diesel Indonesia

Artikel ini dipublikasikan tanggal 15 Agustus 2007 (Bn*X)

Baca Selengkapnya!

Tuesday, 14 August 2007

Review: TESLA ROADSTER (Bn*X)

Saat performa tinggi bersanding dengan efisiensi dalam kematangan sebuah desain















...
Bagi sebagian, atau bahkan banyak orang di dunia, performa tinggi dari sebuah mobil adalah hal yang sangat diimpikan. Penggunaan turbo, NOS, sampai memperbesar displacement sebuah mesin adalah trik-trik yang jamak ditemui pada sebuah mobil berperforma monster, baik keluaran pabrikan, rumah modifikasi, ataupun hasil tuning perorangan. Cara-cara di atas memang efektif untuk mengail tenaga besar pada mesin sebuah mobil. Namun, jika anda seseorang yang cinta pada lingkungan hidup -atau setidaknya sudah melihat film “Unconvenient Truth”- tentu melihat trik-trik di atas sebagai jalan tol untuk menuju kehancuran bumi. Berapa banyak lagi bahan bakar yang terbuang, oli yang terpakai, dan tentu saja polusi yang bartambah? Hal inilah yang mendorong co-founder Tesla Motors Martin Eberhard dan Marc Tarpenning untuk merancang dan mewujudkan sebuah mobil berperforma layaknya sebuah mobil sport sejati namun tanpa menyingkirkan aspek efisiensi –terlepas dari kekecewaan Martin yang gagal menemukan kriteria mobil sport idamannya: hi-performance in efficiency platform.

Berbeda dari Mitsubishi dengan MIEV-nya yang hanya menginstal motor listrik -tentu lengkap dengan baterainya- pada keempat roda seri Evolution terbarunya, Tesla Roadster betul-betul dirancang dari nol.
















Menggaet Lotus sebagai seksi desain, Tesla Motors akhirnya mampu mewujudkan sebuah mobil listrik dalam format roadster dengan kemampuan akselerasi 0-60 mph hanya dalam waktu empat detik, dapat berlari hingga 130 mph (209,21 kmh), dan memiliki jarak tempuh hingga 200 mil (321,86 km) dalam satu kali pengisian ulang baterai. Dan satu hal yang menguatkan kesan efisien adalah: jadwal servis. Pada mobil bermesin pembakaran dalam biasa, servis rutin dilakukan setelah menempuh jarak 3.000-5.000 mil (4.828-8.047 km) untuk memeriksa dan/atau mengganti parts seperti oli, filter oli, filter bensin, busi, dan lain sebagainya. Namun pada Tesla Roadster, hitungan servis rutin baru akan dilakukan setelah mobil menempuh 100.000 mil (160.933 km)! Itu pun hanya untuk memeriksa kelaikan ban dan perangkat rem, karena tidak ada perangkat yang berhubungan dengan oli, pembakaran, dan juga bahan bakar pada mobil ini.
















Tesla Roadster menggunakan baterai berjuluk ESS (Energy Storage System) sebagai penyimpan listrik. Baterai ini memadukan teknologi terkini baterai Li-ion, dipadukan dengan desain orisinil Tesla Motors, sehingga tidak hanya berkapasitas simpan hebat (berdaya puncak 200 kW), namun juga ringan, aman, dan recyclable. Untuk mengisi ulang baterainya, cukup colokkan kabel pengisian pada colokan listrik di rumah, atau bisa juga dengan menginstal unit pengisian listrik dengan teknologi solar system pada mobil. Sebagai penggerak, digunakan sebuah motor yang hanya berukuran sebesar buah semangka. Ya, buah semangka! Motor ini memang memiliki berat hanya 70 pon (31,75 kg), namun tenaga yang disalurkan mencapai hitungan 189 kW pada 8.000 rpm. Sedangkan torsi maksimum sebesar 200 ft-lb disalurkan merata mulai dari 0-6.000 rpm.
















Tesla Motors juga merancang unit drivetrain yang unik untuk mobil ini. Memakai girboks dua percepatan tanpa disertai unit kopling, gigi satunya akan mengantar anda dari keadaan diam hingga kecepatan 60 mph, lalu berganti dengan gigi kedua yang akan mengantar anda pada kecepatan maksimum 130 mph. Jadi, jika anda ingin bersenang-senang dengan mobil ini, cukup pindahkan tuas transmisinya lalu tekan pedal akseleratornya sedalam mungkin. Fantastis!

Untuk mengatur semua perangkat tersebut, Tesla Motors membekali Roadster dengan Power Electronics Module (PEM). Unit ini adalah semacam ECU pada mobil injeksi konvensional. Bertugas untuk mengatur arus listrik yang harus dikeluarkan pada saat mobil berakselerasi, berapa cepat motor harus berputar, hingga fungsi-fungsi vital seperti mengontrol motor torque, charging, dan regenerative braking.

Tesla Motors juga membekali mobil ini dengan system keamanan canggih berjuluk Vehicle Management System. Sistem ini bekerja dengan teknis yang mirip-mirip dengan sistem keyless entry pada mobil-mobil konvensional. Karena itulah, tidak ditemukan handel pintu pada mobil ini.

Lalu, berapa harga yang harus dibayarkan untuk meminang teknologi berbentuk sebuah mobil ini? Di Amerika Serikat sendiri Tesla Motors meminta USD 50,000 hanya untuk uang muka segmen premium buyers, dan USD 30,000 untuk segmen patient buyers. Sedangkan base price-nya sendiri adalah USD 98,000. Di luar itu, para pembelinya dapat mengkustom mobilnya sendiri dengan beberapa opsi dan aksesori seperti:

  • Two tone premium interior: USD 1,800
  • Touch-screen navigation system with voice guidance: USD 1,200
  • Matching body-colored carbon fiber hardtop with full headliner: USD 3,200
  • Bluetooth cellular phone integration: USD 300
  • XM satellite radio with 170 channels of digital sound: USD 400
  • Seven-speaker premium sound system tuned for Tesla Roadster cockpit: USD 800
  • Tesla Motors custom floor mats: USD 125
  • Mobile charging system: USD 500
Well, harga yang sebanding untuk memiliki sebuah karya seni berteknologi tinggi. Kabar buruknya, Tesla Motors belum berniat untuk menjual produknya di luar wilayah Amerika Serikat. Jadi, para orang kaya berkantung tebal di Indonesia: “Be Patient!”. Kalau anda tidak sabaran, ada satu solusi mudah: pindah dan menjadi warga Negara Amerika! Hehehehe……

Source: www.teslamotors.com

Artikel ini dipublikasikan tanggal 14 Agustus 2007

Baca Selengkapnya!

Sunday, 5 August 2007

Modifikasi: YANG PENTING STANDARRRR……. (Bn*X)

4A-GE tak lagi menarik hati

Itulah yang dirasakan Creon saat membuat konsep membangun mesin aslinya. Ia tidak tertarik untuk melakukan engine swap namun lebih memilih untuk memaksimalkan performa mesin OEM Toyota Corolla DX rakitan 1983 miliknya. “Ngebangun mesin itu ga sengaja. Dulu lagi mau start di asaf (Jl. Asia-Afrika) tau-tau mesinnya mati, di-start juga ga nyala-nyala. Ternyata gigi di kem yang muterin distributor patah, isi mesin gw berantakan. Turun mesin, sekalian aja dioprek”.
...
Sekarang, setelah cukup lama menginap di bengkel, DX-nya sudah mampu untuk bersaing dengan sedan-sedan keluaran baru. Tenaga yang dikeluarkan terasa padat dan terus mengisi hingga terputus saat ganti gigi di putaran 8000 RPM. “Overall gw belum puas, tapi cukup dulu deh untuk sekarang, biar nyokap nafas dulu, hehe…”. Kita lihat saja, sampai mana sedan retro yang dijuluki “tukang pos” ini mampu unjuk gigi di trek resmi. Gas pol.. rem pol..!!!
































Mesin “standar” tapi kencang. Mesin yang posisi aslinya miring ini ditegakkan untuk mengeluarkan potensi aslinya dan beberapa peranti internal juga dimaksimalkan.
















Salah satu pendukung performa mesin. Engine mounting OEM diganti dengan mounting bushing.
















Booster rem memakai milik Toyota Kijang yang lebih besar.
















Karburator memakai Keihin SU twin, lungsuran dari mobil Honda yang, “Jenisnya lupa…”. Pasokan bensin tak lagi mengandalkan membrane namun telah di-upgrade dengan memakai rotaks.
















Kipas mesin asli dicopot, diganti dengan kipas elektrik yang lagi-lagi, “Lupa dari mobil apa… Hehe…”.
















Kabin belakang kosong melompong, hanya ada penambahan pembatas kabin dengan bagasi yang terbuat dari pelat besi galvanis.
















….sedangkan kabin depan masih seperti aslinya.
















Safety belt empat titik ditambahkan untuk menemani pengemudi, sedangkan co-driver cukup memakai tiga titik bawaan mobil. Wah, curang nih….
















Pelek memakai Enkei ukuran 14”, dibalut ban Goodyear Ducaro ukuran 195/60 R14 di depan dan Dunlop SP Sport 490 dengan ukuran sama di belakang.
















Tampak belakang mobil, perhatikan tempat knalpot, tidak ada ujung pipa knalpot yang menyembul.
















Nah, tu dia ujung knalpotnya… Dari header 4-1 custom, menyambung ke resonator dan akhirnya berujung di tengah mobil, tepat sebelum gardan.
















Gardan ini bukan bawaan asli namun milik Toyota Corona TT yang bermesin 2TG. Diyakini lebih kuat dari bawaan asli DX.
















Creon, “Engine swap kencang udah ga heran. Mesin standar tapi dahsyat, itu baru nampol!”

SPESIFIKASI:
Cylinder head: Toyota 5K, ported & polished
Blok mesin: OEM 4K
Piston: OEM 7K
Setang piston: OEM 7K
Kruk as: OEM, dibalans
Per klep: Nissan, didobel
Klep: OEM Toyota Corona TT, ubah seating.
Kem: TRD durasi 220°
Karburator: Keihin SU Twin
Header: Custom 4-1
Rotaks: Denso
CDI: Toyota 7K
Busi: Varso silver
Kabel busi: Custom
Engine mounting: tipe bushing
Gardan: Toyota Corona TT
Safety belt: Custom empat titik
Pelek: Enkei 14”
Ban: Goodyear Ducaro 195/60 R14 (depan)
Dunlop SP Sport 490 195/60 R14 (belakang)
Booster rem: Toyota Kijang

MST: 021-70662983

Artikel ini dipublikasikan tanggal 5 Agustus 2007 (Bn*X)

Baca Selengkapnya!