AMS (ADHI MOTOR SERVICE)
Bicara kriteria bengkel ideal memang sangat subjektif. Hal-hal seperti harus kompeten, harga bersahabat, sampai letak yang tidak terlalu jauh dari domisili adalah beberapa kriteria yang diharapkan melekat pada bengkel idaman. Nah.. Setelah melalui pengamatan yang ketat, bengkel AMS milik Hendro Ady Pramono sepertinya bisa anda pertimbangkan untuk dimasukkan daftar calon bengkel langganan.
Tampak luar bengkel
...
Tampak dalam bengkel
Bengkel yang beroperasi sejak tahun 1997 ini terletak di JL. Tangguh 5 no 36, komplek AL, Jakarta Utara. “Sebenarnya buka bengkel sudah sejak sebelum (tahun 19-) 97, tapi belum full-time karena waktu itu saya masih kerja di ASTRA. Baru setelah keluar dari ASTRA, saya kerjain full-time”. AMS beroperasi tiap hari Selasa sampai Minggu dari pukul 08.00 hingga 18.00. Bicara soal kasus apa saja yang bisa dikerjakan, Hendro menjawab, “Apa saja yang masih bisa di-handle, pasti dikerjakan.” Dan memang benar, selain servis rutin, bengkel ini juga biasa mengerjakan opsi engine swap, ganti sasis, servis AC, power steering, bahkan hingga, “Ngubah Daihatsu Taft F50 jadi hot rod. Atapnya di-chop top dan pakai mesin turbo”. Salah satu hasil kerjanya yang terlihat saat bengkel ini diliput adalah sebuah Daihatsu Feroza yang sukses diubah menjadi sebuah Daihatsu Taft. Bermesin diesel Daihatsu DL62 turbo-intercooler lengkap dengan gerak empat rodanya. Dan yang menjadi nilai plus, kerjanya sungguh rapih! Selain itu, AMS juga dapat membantu menyiapkan mesin jika anda ingin mengganti mesin kendaraan kesayangan . Jadi anda tinggal datang bawa mobilnya dan nanti AMS yang akan menyediakan mesin pengganti.
Siapa sangka mobil ini tadinya adalah sebuah Daihatsu Feroza?
Mesin HD standar Feroza sudah berganti dengan diesel DL62 turbo-intercooler, lihat betapa rapih engine bay-nya
Walaupun mirip sekali dengan WARN 8274 M50, winch ini murni buatan bengkel AMS
Ditanya soal merek mobil apa saja yang diterima, Hendro menerangkan bahwa sebelumnya AMS adalah bengkel umum, namun sekarang menjadi bengkel spesialis Daihatsu Taft. Namun begitu, “Kalau ada pelanggan yang bawa mobil merek lain juga nggak masalah, pasti dilayani. Asal bukan Peugeot dan Renault saja karena dua merek itu bikin saya pusing, hehehe…”, terang pria ramah ini.
Nah, untuk anda yang masih belum mendapatkan bengkel langganan ideal, bengkel ini bisa jadi pilihan. Bicara soal kualitas dan harga, bisa dipertanggungjawabkan! Selamat nge-bengkel!
Mas Hendro, “Kerjaan apa saja diterima!”
Monday, 24 September 2007
INFO: BENGKEL PILIHAN (Bn*X)
Posted by
Koranmobil.com
at
12:02 am
0
comments
Review: COVINI C6W (Bn*X)
Ferrari nggak seru lagi!
...
Seberapa sering anda mendengar merek supercar macam Ferrari, Porsche, ataupun Lamborghini dikumandangkan sebagai pemain-pemain utama kelas mobil eksotik bertenaga dahsyat dan berharga selangit? Pasti sudah sering banget kan? Namun, bagaimana kalau saya sebut satu merek supercar dari Italia: COVINI.
Proyek pembuatan mobil ini sebenarnya sudah mulai didengungkan oleh Ferruccio Covini pada tahu 1974. Saat itu ia mempunyai gagasan untuk memasang empat buah ban berukuran sepuluh inci –karena saat itu belum ada ban profil rendah- di bagian depan mobil super rancangannya. Namun akhirnya proyek ini urung direalisasikan dan “tertidur” hingga tahun 1980. Pada tahun itu sudah ditemukan penggunaan sistem suspensi hydro-pneumatis yang dapat memaksimalkan distribusi bobot kendaraan. Namun karena mahalnya biaya pengembangan, proyek ini pun akhirnya “tertidur” kembali. Baru pada medio 90-an proyek ini dibuka kembali. Dan hasilnya? Sebuah mobil bertenaga dahsyat dengan desain yang sangat tidak umum.
Anda pasti bertanya-tanya mengapa harus ada enam buah ban pada mobil ini? Covini mengutarakan beberapa alasan:
Lalu, apa yang membuat mobil ini masuk jajaran mobil-mobil super? Jawabnya: sebuah mesin sangar! Covini membenamkan sebuah mesin naturally aspirated berkonfigurasi V8 berkapasitas 4,2 liter, dengan empat katup per silinder di bagian belakang mobil. Mesin ini menghasilkan tenaga 380 PS pada 6.400 RPM dan torsi sebesar 450 Nm pada 2.700 RPM. Kekuatan sebesar ini ditambah girbok manual 6-speed, mampu melarikan C6W hingga 300 km/jam. Sasis mobil ini adalah pipa tubular yang diperkuat oleh material serat karbon. Bahan yang sama dipakai juga untuk konstruksi bodi, berpadu dengan serat kaca di beberapa bagian. Mobil yang memakai empat ban berukuran 205/45-15 di bagian depan dan dua buah ban 345/25-20 di belakang ini memiliki dimensi (p x l x t) 4.180 mm x 1.990 mm x 1.080 mm. Untuk menghentikan laju kendaraan, C6W dibekali rem cakram dari Brembo di keenam rodanya yang dilengkapi dengan electronic brake-force distribution.
Jadi, tertarik menukar Ferrari anda dengan supercar unik ini?
Source: www.coviniengineering.com
Posted by
Koranmobil.com
at
12:01 am
0
comments
Info: TURBO TIMER (Bn*X)

Bagi anda penyuka mesin kencang berturbo pasti sudah tidak heran lagi dengan benda kecil berjuluk turbo timer. Namun untuk anda yang masih awam atau mungkin pemain baru di “lintasan kecepatan tinggi”, mungkin belum tahu atau belum paham benar apa itu turbo timer dan apa fungsinya.
...
Benda kecil ini adalah sebuah perangkat elektronik yang berfungsi untuk menunda mesin berturbo untuk mati setelah melakukan perjalanan walaupun kunci kontak sudah di posisi off. Jadi, walaupun kunci kontak sudah dicabut, mesin akan tetap menyala hingga hitungan mundur di turbo timer selesai. Mengapa benda ini penting untuk ditambahkan pada mesin berturbo? Pada sebuah unit turbocharger, pada saat benda ini bekerja as turbin akan berputar hingga melebihi 50.000 RPM (revolution per minute) dan menimbulkan suhu yang sangat tinggi. Untuk mengendalikan suhu turbin digunakan oli yang bersirkulasi dari mesin atau ada juga yang menggunakan watercoolant. As turbin ini berputar sangat cepat dan tak ada yang bisa menghentikan putarannya walaupun mesin mobil sudah dimatikan. Karena itulah pabrikan pembuat mobil merekomendasikan agar pemilik mobil yang mesinnya sudah dilengkapi dengan turbo untuk tidak langsung mematikan mesin mobilnya dan membiarkan mesin dalam posisi idle setelah melakukan perjalanan. Hal ini dilakukan untuk memberi waktu oli/watercoolant menurunkan/menstabilkan suhu turbo. Jika mesin langsung dimatikan, oli/watercoolant yang berada di unit turbo akan berhenti bersirkulasi dan tidak akan sempat mendinginkan as turbin. Hal ini dapat menyebabkan cairan pendingin turbo memasuki tahap yang disebut “coking”. Oil/watercoolant coking adalah tahap dimana oli terpanggang yang menyebabkannya berubah menjadi sebuah substansi keras yang dapat menyumbat jalur oli dan akhirnya dapat menyebabkan “oil starvation” pada turbo. Hal ini adalah penyebab pertama kerusakan pada sebuah unit turbocharger.
Sayangnya, walaupun pemilik kendaraan sudah menunda mematikan mesin (pada mobil yang belum dilengkapi turbo timer) ternyata terlalu lama menunda mematikan mesin pun dapat menimbulkan kerusakan pada unit turbocharger. Karena itulah keberadaan sebuah unit turbo timer menjadi vital pada mesin-mesin berturbo. Turbo timer yang baik akan selalu memantau boost tertinggi, berapa saja boost yang dihasilkan selama mobil berjalan, kecepatan rata-rata, dan berapa lama mobil berjalan. Variabel-variabel inilah yang akan menjadi indikator untuk turbo timer menghitung dan menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan mesin untuk idle sebelum mati.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera tambahkan unit turbo timer jika mobil bermesin turbo anda belum menggunakannya. Umur turbocharger anda taruhannya!
Posted by
Koranmobil.com
at
12:00 am
1 comments
Tuesday, 18 September 2007
Modifikasi: GARA-GARA MAMA (Bn*X)

Dulu, ada masanya Puput Ayu Nurbaini jatuh cinta dengan kendaraan jenis jip. Sang kakak, Dimas, pernah membawanya ke acara ulang tahun milis yang diikutinya, Taft Diesel Indonesia. Di situlah Puput jatuh hati pada tampilan dan ketangguhan Daihatsu Taft F50, atau yang biasa dikenal dengan Taft Kebo. Padahal saat itu Puput sudah punya pendamping berupa Honda Jazz VTEC keluaran 2004.
...
Sesampainya di rumah, diungkapkannya keinginannya untuk mengganti mobilnya dengan sebuah Taft Kebo pada ibunda tercinta. Namun apa daya? “Mama nggak ngijinin, makanya ngga jadi deh ngebangun jip..” Kekecewaan Puput tidak berlangsung lama karena untungnya Dimas, sebagai kakak yang baik mendorong Puput untuk meng-up grade tampilan Honda Jazz-nya saja. “Mesin juga kena sentuh sedikit sih, gw tambahin piggyback Dastek Unichip dan exhaust system-nya pake produk DC model 4-2-1. Tapi gw lebih fokus di tampilan. Kalo mesin, kakak gw yang ngutak-ngatik ”.
Sekarang, Puput sudah mulai melupakan mimpi jipnya dan kembali berpaling pada “cinta lamanya”.
Body kit full body adalah yang pertama kali dipasang. Dipilih jenis add-on dengan model dari Modulo.
Rear end minimalis, hanya dihiasi ujung muffler produk Thunderbird.
Pelek SSW ring 17”, dibalut ban Nankang ukuran 205/40 R17.
Spion berubah aksen dengan ditambahkannya cover.
Head lamp custom, pesanan sendiri.
Begitu juga dengan tail lamp-nya…
Audio ditambahkan, namun tidak sampai menyesaki ruang bagasi agar aspek fungsional bagasi tidak hilang.
Kabin depan juga tidak neko-neko, hanya ada penggantian head-unit saja.
Interior full MB-Tech warna pale orange. Identitas pemilik tampak di semua head rest.
Puput, “Kenapa modif mobil? Seneng aja…”
SPESIFIKASI
Basic: Honda Jazz VTEC 2004
ECU: Ditambah piggyback Dastek Unichip
Exhaust system: DC 4-2-1
Muffler: Thunderbird
Body kit: Add-on, model Modulo
Head lamp: Custom
Tail lamp: Custom
Cover spion: variasi
Interior: MB-Tech pale orange
Head unit: Alpine 2-DIN CDA-W925E
Subwoofer: Concept 10”
Power amplifier: Millenium
Capacitor Bank: 1 Farad
Speaker: Kenwood
Pelek: SSW 17”
Ban: Nankang 205/40 R17
Per: Tanabe
Sokbreker: Bilstein Mercedes-Benz C200
Artikel ini dipublikasikan tanggal 18 September 2007 (Bn*X)
Posted by
Koranmobil.com
at
12:03 am
2
comments
CONCEPT CAR: FORD VERVE (Bn*X)

...
Bagi anda penggemar mobil kecil, mungkin anda akan memalingkan muka dari H**da Jazz, T***ta Yaris, ataupun S***ki Swift anda setelah melihat mobil konsep dari Ford ini. Verve merupakan kendaraan konsep terbaru dari Ford yang disasar untuk memeriahkan segmen small car dunia. Kendaraan yang nantinya akan ditempatkan untuk mengganti jagoan Ford sebelumnya, Ford Mondeo, dikembangkan dari konsep Ford Iosis dan Iosis X. Tidak banyak info yang di keluarkan oleh Ford berkaitan dengan mobil ini. Bahkan tidak juga info soal mesinnya. Yah… Namanya juga mobil konsep kan? Sekarang, kita telaah saja dulu tampilan luarnya.
Desainnya yang mencolok mata merupakan hasil kerja para perancang Ford di Ford Europe. Bagian front end dihiasi oleh grill besar berbentuk trapezoid yang bernuansakan krom. Memakai kaca tinted dan menggunakan pintu tanpa frame kaca. Head lamp dan tail lamp sudah menggunakan teknologi LED (Light Emitting Diode) yang memungkinkan sinar lampu bercahaya lebih kuat namun tanpa memerlukan daya listrik yang besar. Di head lamp-nya sendiri digunakan dua projector beam. Bagi anda yang menyenangi nuansa bebas akan menyukai mobil konsep ini, karena Ford membekali Verve dengan panoramic roof. Di sektor kaki-kaki, Verve dibekali dengan pelek alloy two piece berdiameter 18 inch, 12 spokes. Di bagian belakang, kesan “berotot dan sporty” diperkuat dengan adanya diffuser. Sedangkan untuk aksen bodi, Ford memberikan nuansa krom pada handle pintu serta aksen alumunium pada grill bagian bawah, dudukan plat nomor belakang, pada sisi bawah mobil, dan di sekitar lampu kabut depan.
Pada bagian interior, Ford juga ingin memberikan sesuatu yang beda pada mobil konsepnya ini. Mereka membekali dashboard-nya dengan sistem Human Machine Interface yang sudah terlebih dahulu diperkenalkan melalui Ford Mondeo. Kunci yang dipakai pada bagian ini adalah elemen tradisional dari fungsi hiburan, yaitu layar informasi, elemen kontrol, dan perangkat elektronik. Ford merekanya sedemikian rupa hingga didapat tampilan dashboard yang menyerupai tampilan sebuah telepon selular. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan pada pembeli “new generation” yang akrab dengan penggunaan telepon seluler. Ada-ada saja…
Posted by
Koranmobil.com
at
12:02 am
0
comments
Review: MDI”s AIR CAR (Bn*X)
Satu lagi usaha menyelamatkan bumi
...
Sebuah mobil berbahan bakar fosil? Itu kuno, dan menjadi penyumbang polusi yang semakin menjadi-jadi tahun-tahun belakangan ini. Dual energy? Ya… Kalau dengan motor listrik mungkin sudah tidak mengherankan lagi ya? Lalu bagaimana jika sebuah mobil dengan bahan bakar udara bertekanan?
MDI (Moteur Developpement International), sebuah perusahaan yang bermarkas di Luxemburg, mencoba memberikan satu inovasi baru untuk dunia otomotif. Melalui Guy Negre-penemu mesin W12-mereka mengembangkan mobil-mobil mini dalam berbagai bentuk dan aplikasi (taxi, niaga, pick-up, van) yang mesinnya tidak digerakkan oleh bahan bakar fosil, namun digerakkan oleh udara bertekanan. Udara bertekanan? Ya, anda tinggal membayangkan jika pada mesin konvensional piston bergerak akibat ledakan yang ditimbulkan oleh bahan bakar di ruang bakar, di mesin mobil udara ini, piston-piston itu bergerak karena “didorong” oleh udara yang memiliki tekanan tinggi. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada penjelasan yang mendetail tentang cara kerja “mesin angin” ini. Walaupun begitu, kami akan coba menerangkan apa yang kami tahu.
Mesin ini mirip dengan mesin-mesin konvensional. Memiliki empat buah piston yang masing-masing piston memiliki dua tahap kerja, yaitu motor stage dan compression/expansion stage. Tahap pertama memberikan tenaga untuk mobil agar dapat bergerak, dan tahap kedua memiliki fungsi untuk menekan udara di “ruang bakar” dan memasukkannya ke dalam tangki udara. Jadi bisa dikatakan fungsi tahap kedua ini adalah untuk menyuplai/mengisi ulang udara bertekanan yang telah terpakai. Walaupun mirip dengan mesin konvensioanl, ada perbedaan desain pada setang piston yang dipakai. Setang piston ini didesain agar dapat memberikan cukup waktu untuk udara “berkumpul” dan ter-compress di silinder hingga akhirnya memiliki kekuatan untuk mendorong piston.
Setang Piston Mesin Air Car
MDI sendiri menyediakan mesin dalam kapasitas dua, empat, dan enam silinder.
Mesin Air Car
Lalu bagaimana dengan sistem transmisinya? Mobil ini dilengkapi dengan transmisi otomatis yang dikontrol oleh sebuah unit komputer yang secara efektif akan terus menyesuaikan dengan pergerakan mobil. Untuk menghubungkan unit transmisi dengan mesin, digunakan sebuah unit yang disebut moto-alternator. Unit ini memiliki banyak fungsi vital, antara lain menyuplai udara bertekanan untuk tangki udara, memberikan tenaga untuk pengereman, dan menghidupkan kendaraan serta memberikan tenga ekstra saat diperlukan.
Lalu, apakah unit penyimpan udara bertekanan yang disimpan di dalam kabin tidak akan menimbulkan kecemasan tersendiri? MDI telah bekerjasama dengan AIRBUS untuk membuat dan mengetes unit penyimpan udara ini. Mereka membuatnya dari bahan carbon composite yang ringan namun sangat kuat, dan telah mengetesnya dengan percobaan ekstrim seperti… dengan menembaknya. Ya, menembaknya dengan senapan! Lagipula jika percobaan ini kurang meyakinkan, sekedar info, sebuah unit penyimpan udara bertekanan tidak menimbulkan bahaya besar seperti kebakaran jika meledak. Mereka hanya… akan meledak saja.
MDI nantinya akan mengeluarkan dua jenis mobil, yaitu single energy dan dual energy. Pada jenis pertama, kendaraan akan mengandalkan tenaga dari udara bertekanan saja. Jenis ini memiliki kecepatan puncak 50 km/jam dan cocok untuk digunakan di dalam kota yang tentunya tidak memerlukan kecepatan tinggi. Sedangkan pada jenis kedua, mesinnya juga dapat digerakkan oleh bahan bakar lain seperti bensin, solar, alcohol, bio-fuel, dan lain sebagainya. Konversi penggunaan bahan bakar ini akan berlangsung secara otomatis ketika kecepatan yang diraih telah melewati 50 km/jam. Di Eropa, biaya yang dikeluarkan untuk operasional mobil ini sangat minim. Pada jenis single energy, kendaraan ini hanya memerlukan kurang dari satu Euro untuk beroperasi sejauh 100 kilometer, tepatnya 0,75 Euro. Sedangkan untuk mengisi ulang tangki udaranya, akan dilakukan di “SPBU-SPBU” yang telah disediakan nantinya. Untuk isi ulang ini, konsumen akan dikenakan 1,5 Euro. Pengisian dilakukan selama dua hingga tiga menit dan jika tangki sudah penuh dapat mobil digunakan kembali untuk menempuh perjalanan sejauh 200 kilometer. Selain itu mobil ini juga dilengkapi dengan kompresor kecil yang bekerja dengan arus listrik 220V atau 380V dan dapat mengisi ulang tangki udara hingga penuh hanya dalam waktu tiga hingga empat menit. Untuk interval penggantian pelumas, karena tidak adanya pembakaran dalam mesin, pelumas hanya perlu diganti tiap 50.000 kilometer. Hebatnya lagi, gas buang yang dihasilkan dapat disalurkan dan digunakan untuk air conditioner karena suhunya yang sangat rendah (sekitar 0-15 derajat di bawah nol). Mobil ini juga nantinya tidak akan memiliki panel indikator konvensional, melainkan sebuah layar komputer yang menunjukkan info kecepatan dan putaran mesin. Sistem ini juga nantinya akan dapat digunakan untuk sistem telepon GSM, GPS, emergency system, koneksi internet, voice recognitions, info lalu lintas, dan lain-lain.
Model yang akan dikeluarkan ada tiga, yaitu OneCAT yang di Eropa akan dihargai mulai dari 3.500 Euro, MiniCAT yang dihargai mulai dari 6.860 Euro (belum termasuk pajak), dan CityCAT seharga 9.460 Euro (belum termasuk pajak).
Jadi, apakah anda sudah siap menggenggam masa depan?
Source: www.theaircar.com
Artikel ini dipublikasikan tanggal 18 September 2007 (Bn*X)
Posted by
Koranmobil.com
at
12:01 am
0
comments
Friday, 7 September 2007
Modifikasi: NEW CONTENDER! (Bn*X)
Kala panggilan hati mengalahkan sebuah klangenan
...
Hasrat seorang Adhitiya Hanafi untuk terjun dalam sebuah kompetisi off-road serius tidak pernah mati. Kecintaannya pada spesies jip Daihatsu Taft terpaksa harus dikalahkan tatkala keinginannya untuk terjun dalam tim yang memakai jip Daihatsu tidak terpenuhi. Daihatsu F75 (Rocky) tercinta yang sudah rapi didandani siap tempur di medan off-road pun akhirnya terpaksa dijual untuk memenuhi keinginannya tersebut. Sebagai gantinya, Adhit membeli sebuah Toyota BJ40 yang, “Kondisinya sudah jadi 75%”, untuk terjun di seri kompetisi yang diincar: Djarum Super Real Adventure Off-road. “Beli mobil ini memang khusus untuk ikut kompetisi”, terang pria yang berprofesi sebagai konsultan HRD ini.
Pria yang nantinya akan tergabung dalam tim yang bermarkas di Innotech ini juga mendapat tim dengan tidak sengaja. “Dulu mau turun pake Taft ga ada temen, sekarang kebetulan semua yang mau turun pake Toyota, dan juga kita udah cocok sama anak-anak mekaniknya. Selain itu, warna mobil juga emang cocok sama warna tim”.
Sekarang, walaupun harus terima dimesemin oleh istri tercinta karena menjual Taft-nya, Adhit tidak lagi memiliki kecemasan saat akan terjun di ajang kompetisi off-road tanah air. Selamat bertanding Mas, semoga sukses dan jangan lupa bawa pulang piala! Hehe….
Mesin diesel asli berkode 3B dianggap tidak bisa fight di kompetisi, maka itu ditukar dengan 13BT bawaan Toyota Dyna lengkap dengan turbo CT26-nya.
Sokbreker memakai buatan FOX di keempat roda. Terlihat juga rumah setir yang diambil dari Toyota Commando.
Gardan depan memakai milik Toyota BJ60. Sok stir buatan 4Way dipasang untuk menjamin kehandalan pengendalian.
Ini gardan belakangnya, yang tentu saja juga mencomot dari Toyota BJ60. Hampir lupa, per memakai buatan Old Man Emu.
Girboks mengandalkan 5-speed bawaan mesin yang dikawinkan dengan transfercase OEM BJ40.
Rem cakram memakai bawaan FJ60.
Bumper pipa ini racikan Innotech. Ringkas, kokoh, ganteng, sekaligus berfungsi sebagai dudukan winch Warn 8274 M50.
Sedangkan di belakang mengandalkan Warn M8000.
Foot step asli dilepas, diganti dengan foot step custom yang berfungsi juga sebagai side bar.
Interior khas mobil kompetisi, simpel dan fungsional. Dasbor hanya diisi oleh gauges bikinan autometer, masing-masing untuk memantau bahan bakar, suhu mesin, pengisian listrik, tekanan oli, dan suhu oli.
Nah yang ini pusat control untuk winch depan dan belakang.
Jok semi-bucket, lupa dicomot dari mobil apa, hehe.. Sabuk pengaman empat titik buatan Sabelt menjaga driver dan co-driver.
Setir memakai MOMO.
Kompresor ini untuk ARB air-locker di gardan depan, sedangkan gardan belakang memakai Detroit locker.
Roll-bar enam titik dipasang, tersambung langsung dengan sasis sebagai salah satu syarat keselamatan.
Roll-bar bagian belakang juga berfungsi sebagai dudukan Hi-lift jack.
Juga sebagai tempat disematkannya tabung pemadam api.
Tangki solar bawaan digusur, berganti dengan tangki solar custom tepat di belakang jok.
Tyre hanger buatan Innotech yang juga berfungsi sebagai dudukan lampu spot dan antenna rig.
Snorkel ini juga buah kreasi Innotech.
Pelek kaleng Blazer Montera yang sudah dimodifikasi menjadi pelek bead-lock dipasang menemani ban Simex Extreme Trekker ukuran 35x10,5 R15.
SPESIFIKASI:
Sasis: OEM BJ40 1984
Mesin: Toyota 13BT
Alternator: Toyota Dyna
Aki: Delkor 100A (dua buah)
Bumper: custom
Tyre hanger: custom
Snorkel: custom
Roll-bar: enam titik
Rig: Alinco
Lampu spot: Warn
Winch depan: Warn 8274 M50
Winch belakang: Warn M8000
Sokbreker: Fox
Per: Old Man Emu
Gardan: BJ60
Final gear: 5,28:1
Locker: ARB air-locker (depan), Detroit (belakang).
Rumah setir: Toyota Commando
Rem: cakram FJ60
Girboks: Toyota Dyna
Transfercase: OEM BJ40
Ban: Simex Extreme Trekker 35x10,5 R15
Pelek: custom beadlock
Setir: MOMO
Jok: semi-bucket
Seat belt: Sabelt empat titik
Gauges: Autometer
Engine cut-off: Flaming River
Insulator baterai: Warn
Innotech: 021-74705959 (Hermawan).
Artikel ini dipublikasikan tanggal 7 September 2007 (Bn*X)
Posted by
Koranmobil.com
at
12:01 am
1 comments